Tuesday, July 15, 2008

Kesempatan Kedua (1)

“Sampai juga,” aku menghela nafas lega. Tubuh terasa penat setelah menempuh perjalanan selama tiga jam dari lapangan udara Sultan Mahmud Badaruddin. Di lokasi pengeboran suasana tampak tetap sibuk walaupun tengah malam hampir terlewati. Sinar lampu yang menerangi sekeliling rig sungguh merupakan pemandangan yang indah saat kulihat melalui celah-celah pepohonan yang mengelilingi basecamp. Ditambah bulan yang bersinar terang membuat suasana tidak seperti di tengah hutan.
Aku melangkahkan kaki menuju kantor Wak Uban untuk menanyakan lokasi cabinku.
Seperti biasa, Wak Uban menyambut kedatanganku dengan ramah. Setengah menggerutu dia berucap “Kalau kau kesini bikin repot, aku harus mengosongkan satu cabin yang harusnya bisa dihuni oleh empat orang.”
“Apa Wak tega membiarkan aku satu cabin bukan dengan muhrimku?” selorohku.
“Besok kau akan ditemani dua orang trainer, dari Cina dan dari Jepang.” Wak Uban menyerahkan kunci cabin seraya menyebutkan lokasi cabinku.
“Terimakasih Wak,” ujarku mengambil kunci yang disodorkan dan bergegas menuju cabin, rasa kantuk rasanya sudah tak tertahan.
Tak lama di cabin, aku langsung tertidur pulas. Aku terbangun ketika mendengar ada yang menggendor pintu. Setengah melompat aku bangun dari tempat tidur ketika
melihat arlojiku sudah menunjukkan jam tujuh pagi.
Salim si sample catcher yang mengendor pintu, “Telepon dari Jakarta,” ujarnya singkat.
“Oke, aku segera kesana.” Aku menutup pintu dan terburu-buru ke kamar mandi untuk cuci muka, selanjutnya menyambar safety head yang tergantung di kamar.
Bau tanah tercium ketika aku melangkahkan kaki menuju kantor Drilling, dimana-mana becek, hampir seperti kubangan. Rupanya semalam turun hujan deras, pantas tidurku nyenyak sekali.
Karena tergesa-gesa melangkah, sepatu bootku yang sebelah kanan tertahan di tanah merah yang gembur. Hampir aku terjatuh karena kehilangan keseimbangan, untung ada yang menarik lenganku.
“Apa khabar?” sapa orang tersebut setengah tertawa melihatku yang memandangnya tidak percaya.
“Yunan!” aku setengah berteriak menyebut namanya, “bukankah…,”
“Sst…Kita lanjutkan pembicaraan nanti, bukankah ada telepon untukmu,” dia mengingatkanku.
“Ayo kita kesana,” lanjutnya menunjuk kantor Drilling.
Aku mengikuti langkahnya, kali ini berjalan lebih hati-hati.
Seperti yang kuduga, Operation Geologist yang meneleponku.
“Bang, terlalu sekali menyuruhku naik pesawat terakhir, padahal giliranku masih nanti malam,” gerutuku jengkel. Menyebalkan sekali harus meninggalkan libur akhir pekan bersama keluarga kakakku semalam.
“Sorry, perhitunganku meleset sedikit. Ya.., ini memang resiko profesi,” ujar si Abang santai.
“Kebayang nggak sih, aku berduaan dengan si Kamal tengah malam di hutan belantara yang gelap gulita,” tambahku.
Berderai tawa si Abang,”Ah kau jangan mendramatisir suasana, si Kamal itu kan bisa dipercaya.” Selanjutnya ia menyebutkan pesan dari supervisorku, sebelum menutup telepon dia mengingatkan untuk menghidupkan HP ku..
Kuletakkan gagang telepon, kulihat Yunan sedang berbicara serius dengan Mas Alta, orang yang paling berkuasa di rig ini.
Pikiranku melayang ke masa ketika aku menyelesaikan kuliah di Bandung.
Yunan adalah sahabat karib Mbak Ida dan Mas Edi dimana Mbak Ida adalah teman satu kosku. Pada awalnya hubungan kami biasa-biasa saja sampai ketika aku mendapat musibah ditinggal pergi oleh pacarku untuk selamanya, mulailah mereka campur tangan dalam urusan studi bahkan pribadiku, karena Mbak Ida yang merupakan anak tunggal sudah mengganggapku sebagai adiknya sendiri.
Kalau bukan karena campur tangan mereka mungkin aku sudah DO, tidak dapat melalui Tingkat Pertama Bersama di kampusku.
Aku teringat betapa menyebalkannya Yunan di tahun pertama setelah kepergian Widad.
Sore itu, aku berjalan sendiri karena memang sedang bete ditambah kuliah Fisika yang terasa sukar kucerna menambah rasa uring-uringanku, hidup terasa sangat menyebalkan!.
“Kau pasti tahu berapa jumlah pohon yang berjejer disepanjang jalan ini,” seseorang berkata sambil berusaha menyamai langkahku. Aku tak menjawab setelah tahu Yunan yang menghampiri dan meneruskan lamunanku.
“Nada, kapan kau akan keluar dari negeri bayangan, menghadapi kenyataan betapapun pahitnya,” lanjutnya lagi.
Aku hanya mengernyitkan alis, merasa terganggu dengan kehadirannya.
“Kehilangan orang yang sangat kita sayangi memang menyakitkan tapi tenggelam dalam kenangan masa lalu juga bukan penyelesaian. Kau sedang membayangkan saat merayakan ultah bersamanya, kan?” tanyanya mengagetkanku.
“Tahu darimana hari ini hari….!” tukasku kesal tapi terpotong oleh perkataannya.
“Mau tahu hadiah apa yang paling diinginkan Widad bila dia dapat mengatakannya?”
Aku menghentikan langkah, kutatap Yunan sebal. Yunan balas menatapku, tidak mempedulikan reaksiku. Melalui mataku dia seakan ingin menyaksikan semua yang ada dalam khayalanku.
“Melupakannya,” ujarnya pelan tapi sangat tegas.
Darahku naik ke kepala, aku tidak suka ada orang lain yang mengusik khayalanku bersama Widad, apalagi Yunan belum satu tahun kukenal dan aku menghargainya karena dia teman baik Mbak Ida..
Kupercepat langkahku, kutahan air mata yang hendak keluar, aku benar-benar marah. Tidak tahu marah pada siapa, pada mbak Ida yang sudah membocorkan cerita tanpa seizinku, pada nasibku, pada ketololanku atau pada orang yang dapat membaca pikiranku.
Sejak kejadian sore itu aku lebih memilih berdiam di kamar daripada menghabiskan waktu di kamar mbak Ida seperti yang sering kulakukan.
Seperti biasa, Mas Edi yang selalu jadi penengah bila ada ketegangan antara aku dengan Yunan atau mbak Ida, ia yang selalu mencairkan suasana dengan mengajakku bicara seolah-olah tidak tahu apa-apa.
“Kok sudah lama tidak kelihatan, lagi banyak tugas?” tanyanya lalu duduk disebelahku.
Kuturunkan Koran yang kubaca, “Iya, Mas,” jawabku pendek, tak tega mengacuhkan orang yang paling baik sedunia.
“Bagaimana pelajaranmu?” tanyanya lagi.
Dalam hati aku bersungut, pasti Mbak Ida yang menceritakan betapa parahnya nilai-nilaiku.”Kalau Mas Edi punya waktu, ajarkan aku fisika ya, menyebalkan sekali bagian listrik dan magnet!”Aku bersungut.
Mas Edi tertawa “Rabu ini kau ujian fisika kan? Daripada melamun mending belajar sekarang, kan belum ada yang ngapel ?”tanyanya meledek.
“Aku ngerti, malam minggu seperti ini setiap orang pasti sudah punya acara,” aku balas meledeknya, kekesalanku berangsur sirna.
Kulihat Mas Edi menelepon seseorang, “Ayo, kuantar kau ke Aula Barat, Yunan ada disana sekarang.”
“Si Dhani sedang pulang ke Semarang, jadi kau tidak perlu kuatir mengganggu acara mereka. Lagipula diantara kami bertiga, Yunan yang paling handal untuk urusan mengajar,” lanjut Mas Edi melihat aku akan mmembantah.
Tadinya aku menolak diantar, apalagi jarak ke kampus tidak jauh dari tempat kosku. Tapi mbak Ida dan mas Edi beralasan sekalian keluar, jadilah aku diantar mereka sampai bertemu Yunan.
Yunan lalu memisahkan diri dari teman-temannya dan aku mengikutinya duduk di pojok sebelah kanan dari pintu masuk.
Dia mengambil buku yang kubawa dan membuka sekilas, “Masih marah?” tanyanya melihat aku belum juga membuka mulut. “Sorry, mungkin perkataanku waktu itu terlalu keras, aku tahu, yang kau butuhkan saat ini adalah waktu bukan nasehat. Tapi kau perlu ingat, kau sedang berpacu dengan waktu, kau tahu resiko kalau gagal lagi tahun ini. Orang tuamu pasti kecewa,” Yunan menatapku lurus.
“Kau benar, mungkin hari itu moodku memang sedang jelek, sudahlah anggap tidak terjadi apa-apa,” kataka lunak. Aku tahu Yunan bicara serius dan kekuatiranku akan di DO melebihi segalanya, rasanya tak sanggup membayangkan kekecewaan orang tuaku.
Sejak itu hubunganku dengan Yunan semakin akrab, bukan hal yang aneh kalau mereka bertiga menegur dengan cara meledekku kalau aku terlalu larut dalam kesedihan. Bahkan mereka ikut-ikutan menyeleksi dan mencari tahu siapa saja yang mencoba mendekatiku.
“Nada,” seseorang memanggil namaku.
Aku tergagap entah sudah berapa lama aku melamun dan sudah berapa kali namaku dipanggil. “Sorry Mas, aku masih ngantuk, jadi agak ngelantur” aku memberi alasan sekedarnya pada Mas Alta yang memanggilku.
“Kenalkan ini Yunan, Wireline Engineer yang kebetulan sedang sowan kesini,” ujar Mas Alta.
“Aku mengenalnya sudah lama, bahkan ketika dia masih suka menangis,” timpal Yunan.
“Itu dulu, sekarang sudah tidak lagi,” kataku malu mengingat betapa cengengnya aku dulu.
Yunan tertawa dan pamit pada Mas Alta, aku mengikuti langkahnya.
“Apa benar sekarang kau sudah lebih tegar?” Yunan memulai perbincangan tatkala kami melangkah keluar dari kantor drilling.
“Kau tidak percaya setiap orang bisa berobah dengan waktu?” sungutku.
”Apa khabarmu, yang kudengar kau jarang di Indonesia, apa khabar Mbak Dhani, sudah punya anak berapa?”tanyaku penuh rasa ingin tahu. Sudah hampir lima tahun sejak dia lulus kami tidak bertemu, khabar mengenai dia seolah tenggelam diantara lautan yang memisahkan kami.
“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Dhani sudah menikah dan punya anak, tapi bukan denganku dan hubungan kami tetap baik,” Yunan menatapku tersenyum.
“Mengenai status, sampai saat ini aku masih sendiri, apa kau senang mendengarnya?” senyum Yunan semakin melebar.
Kutinju lengannya ”Wanita idealmu seperti apa sih? Apa kurangnya Mbak Dhani hingga kalian tidak berjodoh.” Aku menekan nada suaraku sebiasa mungkin. Rasanya ada sebersit cahaya yang kembali mengisi relung hatiku.
“Dhani itu kelebihannya banyak, wanita ideal menurut banyak orang. Tapi aku tahu dia bukan jodohku.”
“Bagaimana kalian putus?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.
“Setelah lulus aku harus mengikuti training selama enam bulan di Australia, selanjutnya, aku menghabiskan banyak waktu di lapangan. Dhani tidak setuju dengan pilihan pekerjaanku, akhirnya dia memutuskan untuk berpisah.”
“Apa kau sedih setelah putus darinya?”
Yunan tertawa,”Kau sudah tahu jawabannya. Kau tahu siapa yang aku suka,” dia menatapku dalam. “Kau sendiri bagaimana, apa sudah mendapatkan pengganti Widad?”
Aku tercenung sesaat, tatapannya masih sama, tatapan yang dulu telah membuatku gelisah dan akhirnya memutuskan untuk menjaga jarak dengannya.
“Apa masih terus bersedih kalau mengingatnya?” Yunan melanjutkan pertanyaannya.
“Kau pernah mengatakan, aku butuh waktu. Aku pikir waktu tujuh tahun sudah lebih dari cukup untuk tidak bersedihk mendengar namanya.disebut,”jawabku lirih.
“Termasuk untuk mencari penggantinya?” Yunan kembali menatapku , aku takut sekali dia dapat merasakan gejolak hatiku.
“Jodoh itu seperti bayangan, aku diam, dia diam, kalau aku berlari dia ikut berlari, jadi aku harus bagaimana?” aku berusaha mengalihkan suasana yang mulai membuatku rikuh dan mengucapkannya seriang mungkin.
“Kalau begitu, kau harus merobah persepsimu tentang jodoh, bukan merupakan bayangan tapi sesuatu yang harus diperjuangkan entah pada saat yang tepat atau tidak.” timpal Yunan membuat beribu penyesalan dalam hatiku.
“Aku mau ke truk, logging sudah akan dimulai, mau melihat kedua trainer. Dan kau, apa tugasmu, dan apa yang akan kau lakukan sekarang?”Yunan menghentikan langkahnya.
“Tugasku malam ini, mengawasi velocity survey. Sekarang aku akan mengecek pit yang telah dibuat untuk memastikan lebar dan kedalamannya cukup baik ,” jawabku agak kecewa, tak rela mengakhiri percakapan kami.
Yunan menepuk lenganku, “Oke, kita sambung lagi pembicaraan ini, masih banyak hal yang ingin kudengar darimu ujarnya terus beranjak pergi.
Aku menghela nafas dalam-dalam, “Waktu, kenapa selalu tidak berpihak padaku?” keluhku.

3 comments:

Anonymous said...

halo mbak anita, aku gunawan (library COPI) nih hehe..., wah cerpen yg menarik dari sepenggal kisah masa lalu, atau bisa dibilang sebuah "jejak langkah" yg kit gurat kembali dlm tulisan. baca tulisanku juga ya di "jejak langkah".

yoese mariam said...

mba kyu....aiiiih keyeeen deeeh , buat dunks tentang WSG getho wkwkwkwk atau ops geo hihihihi......
keep writing yaks Mba, ntr akyu baca part 2,3, etc nya

anit said...

boleh Se, ntar pengalaman pribadimu aku tulis ya...-:)