Thursday, August 14, 2008

Kesempatan Kedua (3)

Yunan mengendarai mobil pelan, menghindari tanah liat yang gembur agar tidak terperosok. Tak banyak yang kami perbincangkan karena Yunan harus ekstra hati-hati agar tidak slip. Setelah berjalan offroad kira-kira satu jam, kami tiba di jalan aspal, jalan provinsi yang menghubungkan Palembang dan Jambi.
“Ada yang menarik di Jambi?”
“Mungkin ada,” jawab Yunan singkat. “Bagaimana kariermu?” Sekilas ia memandangku.
“Biasa-biasa saja. Kau sendiri?”
“Aku baru saja memutuskan, akan menerima tawaran untuk kembali ke Jakarta.”
“Promosi rupanya.”
Yunan tertawa.”Menurutmu ini berita bagus?” dia mengurangi laju mobil.
“Tentu saja, aku senang bertemu denganmu lagi.”
“Janji tidak akan menghindariku?”
Mukaku mendadak terasa panas, aku jadi salah tingkah mendengar pertanyaannya.
Kejadian beberapa tahun lalu menari di depan mata.
Aku ingat betapa rumitnya suasana ketika mbak Dhani mulai menyadari ada yang berobah pada Yunan. Aku meyakinkannya dan meyakinkan diriku sendiri bahwa antara aku dan Yunan tidak ada hubungan apa-apa dan sejak itu aku selalu menghindari Yunan, menutup pintu hatiku rapat-rapat.
Terakhir kali bertemu dengan Yunan adalah pada saat ia lulus, Mbak Ida memaksaku untuk ikut merayakan perpisahan mereka bertiga karena besoknya Yunan harus ke Jakarta untuk selanjutnya training ke Australia.
Saat aku ditinggalkan berdua, aku sadar ini sudah ada dalam skenario mereka bertiga.
Aku membulatkan tekad, ini pertemuan terakhir, tidak akan ada lagi peristiwa seperti ini.
Lama kami terdiam, sekilas kulihat Yunan hanya memutar-mutar gelas minumannya, tapi matanya terus menatapku.
“Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan, aku mau pulang,” ujarku mulai salah tingkah.
Dia tersenyum tipis. “Kau harus menjawab pertanyaanku dengan jujur, kenapa kau menghindariku?”
“Aku merasa akhir-akhir ini ada sesuatu yang tidak beres diantara kita.”
“Maksudmu karena aku menyukaimu atau karena kau juga punya perasaan yang sama?”Yunan menatapku lurus, mencari jawaban di mataku.
Aku tak langsung menjawab, menimbang apa yang harus kukatakan. Aku tahu sifatnya yang tidak gampang menyerah dalam segala hal.
“Banyak hal dari dirimu yang aku kagumi tapi waktu tidak mengizinkan rasa itu bersemi.”
“Aku akan menunggu sampai rasa itu ada” tukas Yunan cepat.
“Yu, kalau kau lepaskan Mbak Dhani karena aku, maka kau akan terpatri sebagai sosok yang tidak setia, dan suatu saat kau akan meninggalkan aku karena orang lain. Aku tak mau pikiran itu membayangiku.”
Yunan menghela nafas, aku dapat melihat ada kegalauan di matanya. Kepercayaan dirinya yang tinggi yang selalu membuatku kagum seolah lenyap. Aku bangkit dari dudukku, tak ingin rasa iba mendobrak dinding pertahananku.
“Selamat jalan, semoga sukses,” aku mengulurkan tangan sebagai tanda perpisahan.
Dia menjabat erat tanganku, “Keputusan ini, apa karena kau masih tidak dapat melupakannya?”
Aku mengangguk, ingin lekas menjauh darinya, air mata sudah mulai menggenang di kelopak mataku.
“Nada, dalam setiap persaingan aku selalu yakin akan jadi pemenang. Tapi bersaing dengan orang yang sudah tidak ada, aku benar-benar tak berdaya,” ujarnya pelan dan melepaskan jabatan tangannya.
Aku bergegas keluar, tak kuhiraukan panggilan Mbak Ida yang menungguku diluar. Air mataku mengalir deras. Alunan suara Roxette yang melengking sendu mengiringi kepergianku.

It must have been love
But it’s over now
It was something I wanted
Now I’m living without

Ingin rasanya kembali, mengggapai kebahagiaan yang menanti di depan mata, tapi terbayang wajah Mbak Dhani. Aku tahu apa artinya kehilangan dan aku tak ingin dibayangi perasaan bersalah, merenggut kebahagiaan orang dengan cara yang tak pantas.



“Nada, kau belum menjawab pertanyaanku,” suara Yunan mengagetkanku.
Dia mengurangi laju mobil dan berhenti mengikuti antrian mobil di depan kami. Sebagian jalan sedang dalam perbaikan, jadi kendaraan harus bergantian jalan di satu jalur. Dia mengarahkan badan menatapku.
Aku gelagapan, memikirkan apa pertanyaan yang dia ajukan. “Tidak ada alasan untuk menghindarimu,” jawabku setelah ingat apa yang dia tanyakan.
Yunan tertawa melihat reaksiku, “Kebiasaanmu melamun tidak pernah hilang. Sesungguhnya apa yang ada di pikiranmu, aku sungguh penasaran.”
“Aku tidak habis pikir, kita bisa bertemu disini,” aku sedikit lega melihat mobil kami sudah mulai jalan, Yunan kembali mengarahkan perhatiannya ke depan.
“Mungkin ini takdir,” ujarnya tak acuh. Aku menoleh ke arahnya, kulihat senyum tertahan di wajahnya, aku merasa ada yang ia sembunyikan.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam, kami memasuki kota Jambi. Yunan membelokkan mobil ke rumah makan Padang yang pertama kami jumpai.
“Aku tak tahu dimana tempat makan enak disini, yang jelas aku sudah lapar. Tak keberatan kita makan disini?”
”Makanan disini enak, aku jamin kau akan ketagihan,” aku meyakinkannya, sudah tiga kali aku makan di tempat ini.
”Sepertinya sekarang musim durian,” Yunan membuka pembicaraan. ”Banyak sekali yang berjualan di pinggir jalan.”
Aku membenarkan ucapannya. ”Kalau musim durian, ada pedagang yang menjualnya ke rig. Duriannya lezat, matang di pohon.”
”Sayang sekali aku tidak sempat mencicipinya.”
Aku memandangnya, menunggu kalimat selanjutnya.
”Besok pagi aku harus terbang ke Jakarta,” ujarnya.
Ada yang terasa kosong di hatiku mendengar perkataannya, salahku terlalu banyak berharap dari pertemuan yang kebetulan ini.
Tak lama makanan kami di sajikan, Yunan menyantap menu yang tersedia dengan lahap.
”Bagaimana kalau kita makan durian disini?”
Aku memandangnya tak percaya, ”Masih sanggup?”
Yunan tertawa. “Aku kangen sekali makanan Indonesia. Aku juga rindu masakan kantin Salman. Kalau nanti aku kembali kesini, hal pertama yang ingin kulakukan adalah makan disana.” lanjutnya bersemangat.
“Aku ingin makan bersamamu. Itu salah satu keinginanku yang belum terpenuhi, sebab itu aku ingin mewujudkannya,” dia berkata serius.
Aku merasakan dadaku bergemuruh, dan aku sangat takut waktu kembali tidak berpihak kepadaku.
“Masih berhubungan dengan Ida?” tanyanya.
“Ya, walaupun tidak terlalu sering. Email terakhir Mas Edi mengatakan kalau mbak Ida melahirkan seorang putra dan mereka berharap aku main kesana sebelum mereka kembali kesini.”
“Aku mampir ke rumah mereka tahun lalu. Mereka tinggal di sebuah kota kecil bernama Winsum. Di belakang rumah mereka ada sungai, menyenangkan sekali main kano disana.”
“Sepertinya menarik sekali. Kenapa mereka tidak pernah cerita kalau kau pernah kesana?” tanyaku terlepas begitu saja.
“Apa itu penting bagimu?”
Aku tersipu. Aku tahu ada sesuatu yang dicari dari pertanyaannya.
“Pada saat aku disana, aku bertanya kepada Ida, apakah kau pernah bertanya tentang aku. Tapi dia tak menjawab, hanya menyuruhku segera kembali ke Indonesia.”
“Apa itu alasan kenapa kau ada disini?”
Yunan menggeleng. “Aku ke Jakarta untuk menghadiri rapat. Aku ada disini karena aku tidak ingin melepaskan kesempatan yang aku yakini memang sudah menjadi rencanaNya.”
“Maksudmu?”
“Jum’at siang aku menelepon Mas Alta, menanyakan apa keberatan kalau kami menempatkan kedua trainer wanita disini. Ia menjelaskan tidak masalah karena dia telah menyiapkan sebuah cabin untukmu yang bisa dihuni oleh empat orang. Selanjutnya aku membatalkan penerbangan hari Sabtu menjadi hari Senin”
“Pantas kau terburu-buru pergi.”
“Besok aku pergi dengan penerbangan pertama. Apa mungkin kau kembali ke Jakarta bersamaku?”
“Sepertinya tidak mungkin. Aku harus menunggu sampai datanya siap dibawa ke Jakarta, untuk selanjutnya di proses disana.”
Yunan tertawa pelan. “Entah mengapa, aku merasa kau masih berusaha menghindariku.”
“Kalau aku menhindarimu, aku tak akan ada disini,” entah dapat keberanian darimana aku mengucapkan kalimat tsb.
Dia memandangku, ada sesuatu yang selalu ia cari di mataku. Suatu pengakuan yang aku masih ragu untuk mengucapkannya.
”Ayo kita kembali ke lokasi, agar tidak kemalaman di jalan,” ujarnya memecah keheningan.
Perjalanan pulang terasa sangat singkat, banyak sekali cerita yang dulu tidak sempat diucapkan akhirnya tersampaikan. Aku merasa nyaman berbicara dengan Yunan tanpa merasa ada batasan. Rasa bahagia yang mendera, kini tidak membuatku merasa bersalah.
Ketika sampai di camp, Yunan menahanku saat akan keluar dari mobil. “Nada, maukah kita memulai segalanya dari permulaan? Aku tanpa satupun ikatan dan kau tanpa kenangan masa lalumu?”
Aku mengangguk.
“Sampai ketemu lagi.” Yunan mengulurkan tangan. “Malam ini kau tidak akan tidur jadi aku yakin kau pasti sedang tidur lelap ketika aku pergi besok pagi.”
Aku menyambut uluran tangannya. “Dulu aku pernah menyesali nasib, merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung setelah kepergian Widad dan kemudian berpisah denganmu. Ternyata dibalik itu semua ada karunia begitu besar yang akan diberikanNya padaku. Kebahagiaan yang membuatku tidak merasa bersalah karena aku tidak merenggut dari siapapun. Kebahagian yang kini aku yakin memang menjadi milikku.”
Kami bertatapan, aku merasa Yunan sudah mendapatkan apa yang selalu dicarinya.
“Aku senang mendengarnya, tak sia-sia aku menghabiskan akhir pekan disini,” dia tersenyum bahagia.
”Jangan lupa mengaktifkan HP segera setelah pesawatmu landing. Aku tak mau kehilangan kontak denganmu terlalu lama.”
Aku mengangguk. Dengan berat hati aku meninggalkannya, tapi langkahku terasa ringan, terasa ada semangat menggelora untuk menyongsong hari esok.

#######################

Aku menerima email klip dari Yunan yang berdurasi tak lebih dari setengah menit. Di akhir pembicaraan dia menyatakan akan ke Amsterdam minggu depan dan mengunjungi Mbak Ida. Masih terngiang di telingaku ucapannya “ Kalau kau bisa mengunjungi Ida, aku akan menghabiskan akhir pekan disana dan mengambil cuti beberapa hari. Aku akan menjemputmu di Schipol.”
Aku masih bimbang memutuskan pergi atau tidak ketika supervisorku berkomentar, “Will you marry him?” entah sudah berapa lama Beliau berdiri di ambang cubicle ku.
Aku sedang menimbang akan mengambil cuti atau tidak karena minggu depan akan ada pertemuan dengan partner.
“Yes, I will marry him. I’m gonna take vacation next week ,” akhirnya aku memutuskan dengan mantap.
“We have a meeting next week,” dia mengingatkanku.
“Pak, it’s about my future. There will be next meeting but there won’t be third chance. Sorry for this short notice.”
Supervisorku tersenyum “have a good time,” ujarnya.
Aku meninggalkannya menuju travel biro yang ada di kantorku untuk mengurus keberangkatanku. Aku teringat ucapan Yunan “Jodoh itu sesuatu yang harus diperjuangkan entah pada saat yang tepat atau tidak.”
Keputusanku semakin mantap, aku telah diberikan kesempatan kedua dan aku tak akan melepaskannya.


TAMAT

Wednesday, July 30, 2008

Kesempatan Kedua (2)

…….
There’s an answer
If you reach into your soul
And the sorrow that you know
Will melt away

And then a hero comes along
With the strength to carry on
And you cast your fears aside
And you know you can survive
So when you feel like hope is gone
Look inside you and be strong
……
Lagu Hero yang dinyanyikan Mariah Carey melantun lembut. Rumus trigonometri yang sedang kubuat pada lembar excell terasa semakin sulit, pikiranku melayang….

“Lagu ini bagus sekali, cocok untukmu,” ujar Yunan seraya memberikan CD yang dipegangnya.
Aku menerima CD pemberiannya terharu, walaupun perkataan Yunan sering terasa menyebalkan, tapi aku tahu dia tulus, tidak ingin aku terjerat dengan huruf D dan O yang tengah menghadangku. Berbeda sekali dengan Mbak Ida dan Mas Edi yang tidak pernah terang-terangan menasehatiku.
“Kau lihat mereka,” Yunan menunjuk sekelompok mahasiswa-mahasiswi yang sedang bercengkrama dengan riang, “Apa kau akan terus mengenang masa lalu dan kemudian akan menyesali saat-saat sekarang yang terlewatkan begitu saja?”
Aku terdiam, perkataan Yunan seringkali menjadi shock terapy untukku.
“Ah…kasihan sekali para pengagummu, harus bersaing dengan orang yang tidak ada,” ujarnya dengan mimik yang lucu.
Aku tertawa melihatnya.
“Bagus, sekarang wajahmu sudah tidak muram. Aku pergi dulu, ada janji dengan Dhani. Kalau ada kesulitan dengan pelajaranmu, hubungi aku.” Yunan segera beranjak pergi.
Mataku mengikuti langkahnya melewati jalan yang katanya dulu lapangan sepak bola. Banyak orang yang lalu lalang disana, terlihat ceria, bersemangat menggapai citanya.
Kupandang langit yang berwarna biru cerah, ingin rasanya terbang menuju alam nun jauh disana, melihat Widad sedang melakukan apa.Air mataku menggenang, rasanya aku sudah lelah, lelah karena hatiku tidak juga rela, tidak pasrah menjalani apa yang sudah digariskan. Pengembaraanku terputus ketika tertabrak seseorang.”Maaf,” ujarku kaget. Setengah menegur dia menatapku. Aku terus melanjutkan langkah, belum terlambat tiba di tempat kuliah. Kutatap seluruh kelas, sebagian teman-teman masih bergerombol, asyik mendiskusikan sesuatu. Seperti biasa, aku akan menyendiri, duduk di pojok kiri depan dan membaca sesuatu, tidak peduli dengan kebisingan di sekitarku. Tiba-tiba perkataan Yunan terngiang ”kau akan menyesali saat-saat sekarang yang terlewatkan begitu saja.”
Kualihkan mata dari buku yang kubaca, kulihat salah satu teman melambaikan tangan, Ririn yang sedang makan, menawarkanku, Seto yang paling senang menggoda, duduk di sebelahku, Rio yang lewat menyapaku. Tuhan betapa tulusnya mereka yang seringkali aku abaikan walau hanya dalam pikiran. Terasa jiwaku seakan memberontak, ingin keluar dari keterkukungan pikiran yang aku ciptakan.
“Alangkah bodohnya membelengu diri dengan kenangan masa lalu dan melewatkan masa sekarang, masa indah menuju kedewasaanku!” semangat itu bergema dalam hatiku.

Hari demi hari hubunganku dengan Yunan terjalin semakin akrab. Aku tidak pernah merasa kami mempunyai perbedaan usia karena sikapnya yang tidak pernah mengguruiku. Sebab itu aku tidak pernah merasa perlu menambahkan embel-embel Mas, atau Kak, atau Bang, seperti yang biasa kuberikan untuk orang yang lebih tua dariku. Aku juga merasa nyaman dekat dengannya juga Mas Edi karena mereka sudah mempunyai pasangan.
Sampai suatu hari di satu malam Minggu yang merupakan titik awal dari ketidak nyamananku berdekatan dengannya.
Aku terkejut saat Yunan sudah menungguku diluar gedung Oktagon setelah aku menyelesaikan ujian Geologi Struktur yang wajib kuambil.
“Kau habis ujian juga?” tanyaku tanpa curiga.
Dia menggeleng,”Aku hanya kuatir, mahasiswa Geologi akan berebutan mengantar kau pulang’”ujarnya melucu.
“Aku benar-benar tersanjung kalau ada kejadian seperti itu,”sahutku.
Tawa kami berderai.
Perlahan kami menyusuri jalan, sayup-sayup terdengar musik gamelan Bali yang terbawa oleh angin yang bertiup semilir, dari kejauhan terlihat ada yang sedang berlatih menari.
“Kau tidak ke rumah Mbak Dhani?” tanyaku tak dapat menutupi rasa ingin tahuku.
“Sudah,” jawab Yunan.
“Bagaimana ujianmu?” tanyanya mengalikan pembicaraan.
“Lumayan,” jawabku. Aku tahu Yunan tak ingin diusik dengan pertanyaan mengenai Mbak Dhani dan aku cukup tahu diri karena ini urusan pribadi mereka.
“Apa Mbak Ida yang memberi tahu kalau aku ada ujian malam ini?” tanyaku penasaran.
“Apa kau keberatan kutemani pulang?” Yunan balik bertanya.
Saat itu aku ingin sekali melihat ekspresi wajah Yunan, sayangnya sinar bulan tertutup oleh lebatnya pepohonan yang berjajar di sepanjang jalan, sedang sinar lampu jalan hanya menerangi remang-remang.
“Tidak, aku senang kau temani…,” aku tak dapat meneruskan perkataanku, tidak menemukan kata yang tepat. Yang aku rasakan, ada seberkas cahaya yang menerangi hatiku, seperti cahaya kunang-kunang yang menerobos kegelapan malam.
”Nada, Widad itu seperti apa, kenapa kau begitu sulit melupakannya?”
Semula aku diam saja, mengira Yunan asal bertanya. Melihat dia menunggu jawaban, selanjutnya ceritaku mengalir.
”Widad itu pendiam, tidak terlalu suka keramaian. Dia tidak terlalu percaya diri, tapi sangat setia kawan, karena itu walaupun temannya tidak banyak tapi mereka bersahabat akrab. Hobbynya berada dekat dengan alam, hampir setiap akhir pekan dia mendaki gunung, panjat tebing atau menyusuri goa, beberapa bulan sebelum kepergiannya, dia sangat menyukai arung jeram.”
“Lalu, kapan dia punya waktu untukmu?” tukas Yunan seakan memojokkanku.
Aku terdiam cukup lama. Pertanyaannya sama seperti yang pernah kuajukan pada Widad sebulan sebelum dia pergi untuk selamanya. Pertanyaan yang menjadi penyesalanku sampai saat ini. Karena pertanyaan itu kami bertengkar, Widad menganggap aku sudah berobah, tidak lagi memahaminya. Sebaliknya aku mulai merasa lelah, merasa tidak pernah diperhatikan, selalu dikalahkan hobbynya.
”Maaf, lupakan kalau pertanyaanku membuatmu sedih.”Yunan buru-buru mengucapkannya.
”Tak apa,” sahutku menguatkan hati. “Widad pernah mengatakan, kualitas hubungan dua orang tidak ditentukan oleh seberapa sering mereka bersama, yang terpenting orang tsb ada dihati dan saling percaya,” ujarku dengan nada getir. Seandainya aku tetap mempercayainya, dia akan pergi dengan hati yang damai.
“Bagaimana kalian berkenalan?”Yunan kembali bertanya.
“Untuk mengisi liburan kenaikan kelas, atas desakan teman-teman aku ikut kegiatan Pencinta Alam mendaki gunung Gede. Saat turun, kakiku terkilir dan Widad yang menolongku.”
“Hm...cinta lokasi, rupanya.” Aku tak begitu memperhatikan nada suara Yunan, saat itu aku teringat ucapan Satya, salah satu sahabat karib Widad yang menceritakan betapa paniknya Widad saat mendengar aku terkilir. Dia berlari turun padahal dia ada di rombongan paling belakang, sedang aku berada di rombongan terdepan. Dari Satya pula aku banyak mengetahui isi hati Widad karena dia sulit mengungkapkan perasaan sukanya dengan kata-kata.
”Apa yang paling kau suka darinya?” Yunan bertanya lagi.
”Dia tidak pernah mengaturku, dia mengatakan ingin melihat aku sebagai diriku sendiri.
Dia yang mendorongku untuk kuliah disini karena ini cita-citaku sejak kecil.”
”Dan apa perbedaanku dengannya?” kali ini suara Yunan terdengar setengah bergurau.
”Dia bukan penebar pesona, dia tipe yang setia, dan selalu merasa tak nyaman berada di dekat orang-orang yang tidak terlalu dikenalnya.”
”Maksudmu aku....” Yunan tak meneruskan kalimatnya, tanpa terasa kami sudah sampai
di tempat kostku, kulihat Ibu kost sedang duduk di teras depan, pasti sedang menungguku, kemudian beliau akan mengunci pintu pagar.
“Aku heran, di jaman merdeka masih berlaku jam malam,” seloroh Yunan membuatku tertawa.
“Tempat ini pilihan orang tuaku, susah payah mereka mencari tempat kost seperti ini.”
Yunan tersenyum mendengar alasanku, ia melihat arlojinya,”Kau masuklah, aku mau ke lab, mengerjakan tugas akhirku.”
“Pantas kau terlihat sibuk akhir-akhir ini, untung aku sudah lulus TPB, kalau tidak kau pasti tidak punya waktu mengajarku.”
“Justru aku harus menyibukkan diri, terasa ada yang hilang setelah kau lulus TPB. Sejak masuk jurusan, kau sudah tidak memerlukan aku lagi.”
Agak lama Yunan terdiam, kemudian dia memandangku.
“Merepotkan sekali harus selalu mencari alasan untuk menemuimu, merana sekali sudah tidak dibutuhkan lagi,” keluhnya.
Aku terdiam mendengar ucapannya, ada sesuatu yang menyelinap, rasa yang dulu pernah membuatku bahagia, yang tanpa kusadari terkikis perlahan, perasaanku terhadap Widad.
“Oke, selamat tidur. Semoga kau punya khayalan baru tentang orang yang kelak akan mendampingimu.” Yunan berpamitan.
“Sampai nanti,” aku bergegas ke pintu pagar, tak mau terperangkap dengan perasaanku.
Sebelum masuk ke kamar, aku mampir ke kamar Mbak Ida.
“Mbak, kau yang memberitahu Yunan kalau aku ada ujian malam ini?”
“Sejak dulu dia tahu jadwal kuliah dan ujianmu,” jawab Mbak Ida tak acuh.
“Dia menemanimu pulang? Apa yang kalian bicarakan?”lanjut Mbak Ida menggodaku.
”Dia banyak bertanya tentang Widad,” jawabku tak mempedulikan ledekannya.
“Kupikir Yunan punya perhatian khusus padamu. Aku senang kalau kau juga punya perasaan yang sama,” Mbak Ida kembali menggodaku.
”Sejak awal aku sudah menduga Yunan dan Dhani sebenarnya tidak cocok. Yunan bukan tipe laki-laki yang senang diatur, aku rasa dia akan menderita mempunyai isteri yang posessive seperti Dhani,” lanjut Mbak Ida serius.
”Saat seperti itu tidak akan ada, Mbak” ujarku pelan.
Mbak Ida memandangku, “Apa aku boleh bertanya tentang Widad lebih rinci?”
Aku mengangguk.
“Bagaimana dia meninggal?”
“Dia meninggal saat arung jeram di Aceh, setelah menolong seorang sahabat yang perahunya terbalik,”ujarku sedikit tersendat, mataku terasa basah.
“Jangan teruskan kalau kau merasa belum sanggup,” Mbak Ida merangkulku.
Aku menggeleng, meneruskan ceritaku “Malam sebelum mereka memulai ekspedisi, Widad bercerita kepada Satya kalau ini merupakan ekspedisi terakhirnya. Selanjutnya dia akan konsentrasi pada kuliahnya dan akan lebih sering mengunjungiku.Dia mengatakan mulai kuatir dengan hubungan kami dan merasa menyesal membiarkan aku kuliah disini.”
Mbak Ida menghela nafas. “Seandainya ada orang seperti Widad, dan menyukaiku, Edi akan kutinggalkan.”
Aku tersenyum mendengar ucapannya, aku tahu Mbak Ida berusaha menghiburku.
“Awas, aku akan melaporkan pada Mas Edi,” ancamku, kesedihanku mencair.
“Nada, sebelum ijab kabul diucapkan, kita tidak pernah tahu siapa jodoh kita. Jadi jangan cepat menutup diri hanya untuk satu orang,” ujar Mbak Ida kalem, membuatku terperangah.
Kulihat Mbak Ida mengeliatkan badan, bersiap untuk tidur. Aku segera keluar dari kamarnya.

Baru kusadar, sejak tadi ada yang berdiri di belakangku, memperhatikan rumus yang sedang kubuat. Segera aku menoleh, mukaku terasa memanas setelah tahu siapa yang ada di belakangku.
Yunan yang berdiri, memeriksa dengan seksama.
“Hasan yang akan mengajar mereka,” Yunan menjawab tanya yang belum sempat kuucapkan.
“Kau membuat program apa?” tanyanya tetap memandang ke rumus yang sedang kubuat.
“Untuk mengkoreksi penjalaran gelombang ke posisi vertikal,” ujarku.
”Alat logging nyangkut, velocity survey paling cepat setelah lewat tengah malam.”
“Sekarang ikut aku, kau masih punya banyak waktu,” ia meneruskan.
“Kemana?” tanyaku melihat dia sudah beranjak.
“Jambi,” sahutnya singkat.
Aku mengikuti langkahnya, memang membosankan kalau sedang ada masalah dan tidak banyak yang harus dikerjakan. Hiburan satu-satunya adalah pergi ke kota terdekat.
“Mas, kami mau ke Jambi, bosan disini menunggu giliranku bertugas,” kataku pada Mas Alta yang kebetulan lewat.
“Jangan kuatir, sebelum matahari terbenam kami sudah kembali.” Yunan melambaikan tangan ke arah Mas Alta.
“Hati-hati, jalanan licin,” nasehat Mas Alta.
“Kau yakin mau nyetir sendiri?” tanyaku agak ragu.
“Jangan kuatir, aku tak kalah dengan Kamal,” jawab Yunan mantap.
“Sepertinya kau sudah mengenal baik mas Alta,” kataku sambil memasang sabuk pengaman.
“Dia tiga angkatan diatasku, pernah sama-sama aktif di Himpunan.” jawab Yunan sambil menginjak gas, mobil kami mulai keluar dari lokasi.

Tuesday, July 15, 2008

Kesempatan Kedua (1)

“Sampai juga,” aku menghela nafas lega. Tubuh terasa penat setelah menempuh perjalanan selama tiga jam dari lapangan udara Sultan Mahmud Baharuddin. Di lokasi pengeboran suasana tampak tetap sibuk walaupun tengah malam hampir terlewati. Sinar lampu yang menerangi basecamp dan rig sungguh merupakan pemandangan yang indah saat kulihat melalui celah-celah pepohonan yang mengelilingi basecamp. Ditambah bulan yang bersinar terang membuat suasana tidak seperti di tengah hutan.
Aku melangkahkan kaki menuju kantor Wak Uban untuk menanyakan lokasi cabinku.
Seperti biasa, Wak Uban menyambut kedatanganku dengan ramah. Setengah menggerutu dia berucap “Kalau kau kesini bikin repot, aku harus mengosongkan satu cabin yang harusnya bisa dihuni oleh empat orang.”
“Apa Wak tega membiarkan aku satu cabin bukan dengan muhrimku?” selorohku.
“Besok kau akan ditemani dua orang trainer, dari Cina dan dari Jepang.” Wak Uban menyerahkan kunci cabin seraya menyebutkan lokasi cabinku.
“Terimakasih Wak,” ujarku mengambil kunci yang disodorkan dan bergegas menuju cabin, rasa kantuk rasanya sudah tak tertahan.
Tak lama di cabin, aku langsung tertidur pulas. Aku terbangun ketika mendengar ada yang menggendor pintu. Setengah melompat aku bangun dari tempat tidur ketika
melihat arlojiku sudah menunjukkan jam tujuh pagi.
Salim si sample catcher yang mengendor pintu, “Telepon dari Jakarta,” ujarnya singkat.
“Oke, aku segera kesana.” Aku menutup pintu dan terburu-buru ke kamar mandi untuk cuci muka, selanjutnya menyambar safety head yang tergantung di kamar.
Bau tanah tercium ketika aku melangkahkan kaki menuju kantor Drilling, dimana-mana becek, hampir seperti kubangan. Rupanya semalam turun hujan deras, pantas tidurku nyenyak sekali.
Karena tergesa-gesa melangkah, sepatu bootku yang sebelah kanan tertahan di tanah merah yang gembur. Hampir aku terjatuh karena kehilangan keseimbangan, untung ada yang menarik lenganku.
“Apa khabar?” sapa orang tersebut setengah tertawa melihatku yang memandangnya tidak percaya.
“Yunan!” aku setengah berteriak menyebut namanya, “bukankah…,”
“Sst…Kita lanjutkan pembicaraan nanti, bukankah ada telepon untukmu,” dia mengingatkanku.
“Ayo kita kesana,” lanjutnya menunjuk kantor Drilling.
Aku mengikuti langkahnya, kali ini berjalan lebih hati-hati.
Seperti yang kuduga, Operation Geologist yang meneleponku.
“Bang, terlalu sekali menyuruhku naik pesawat terakhir, padahal giliranku masih nanti malam,” gerutuku jengkel. Menyebalkan sekali harus meninggalkan libur akhir pekan bersama keluarga kakakku semalam.
“Sorry, perhitunganku meleset sedikit. Ya.., ini memang resiko profesi,” ujar si Abang santai.
“Kebayang nggak sih, aku berduaan dengan si Kamal tengah malam di hutan belantara yang gelap gulita,” tambahku.
Berderai tawa si Abang,”Ah kau jangan mendramatisir suasana, si Kamal itu kan bisa dipercaya.” Selanjutnya ia menyebutkan pesan dari supervisorku, sebelum menutup telepon dia mengingatkan untuk menghidupkan HP ku..
Kuletakkan gagang telepon, kulihat Yunan sedang berbicara serius dengan Mas Alta, orang yang paling berkuasa di rig ini.
Pikiranku melayang ke masa ketika aku menyelesaikan kuliah di Bandung.
Yunan adalah sahabat karib Mbak Ida dan Mas Edi dimana Mbak Ida adalah teman satu kosku. Pada awalnya hubungan kami biasa-biasa saja sampai ketika aku mendapat musibah ditinggal pergi oleh pacarku untuk selamanya, mulailah mereka campur tangan dalam urusan studi bahkan pribadiku, karena Mbak Ida yang merupakan anak tunggal sudah mengganggapku sebagai adiknya sendiri.
Kalau bukan karena campur tangan mereka mungkin aku sudah DO, tidak dapat melalui Tingkat Pertama Bersama di kampusku.
Aku teringat betapa menyebalkannya Yunan di tahun pertama setelah kepergian Widad.
Sore itu, aku berjalan sendiri karena memang sedang bete ditambah kuliah Fisika yang terasa sukar kucerna menambah rasa uring-uringanku, hidup terasa sangat menyebalkan!.
“Kau pasti tahu berapa jumlah pohon yang berjejer disepanjang jalan ini,” seseorang berkata sambil berusaha menyamai langkahku. Aku tak menjawab setelah tahu Yunan yang menghampiri dan meneruskan lamunanku.
“Nada, kapan kau akan keluar dari negeri bayangan, menghadapi kenyataan betapapun pahitnya,” lanjutnya lagi.
Aku hanya mengernyitkan alis, merasa terganggu dengan kehadirannya.
“Kehilangan orang yang sangat kita sayangi memang menyakitkan tapi tenggelam dalam kenangan masa lalu juga bukan penyelesaian. Kau sedang membayangkan saat merayakan ultah bersamanya, kan?” tanyanya mengagetkanku.
“Tahu darimana hari ini hari….!” tukasku kesal tapi terpotong oleh perkataannya.
“Mau tahu hadiah apa yang paling diinginkan Widad bila dia dapat mengatakannya?”
Aku menghentikan langkah, kutatap Yunan sebal. Yunan balas menatapku, tidak mempedulikan reaksiku. Melalui mataku dia seakan ingin menyaksikan semua yang ada dalam khayalanku.
“Melupakannya,” ujarnya pelan tapi sangat tegas.
Darahku naik ke kepala, aku tidak suka ada orang lain yang mengusik khayalanku bersama Widad, apalagi Yunan belum satu tahun kukenal dan aku menghargainya karena dia teman baik Mbak Ida..
Kupercepat langkahku, kutahan air mata yang hendak keluar, aku benar-benar marah. Tidak tahu marah pada siapa, pada mbak Ida yang sudah membocorkan cerita tanpa seizinku, pada nasibku, pada ketololanku atau pada orang yang dapat membaca pikiranku.
Sejak kejadian sore itu aku lebih memilih berdiam di kamar daripada menghabiskan waktu di kamar mbak Ida seperti yang sering kulakukan.
Seperti biasa, Mas Edi yang selalu jadi penengah bila ada ketegangan antara aku dengan Yunan atau mbak Ida, ia yang selalu mencairkan suasana dengan mengajakku bicara seolah-olah tidak tahu apa-apa.
“Kok sudah lama tidak kelihatan, lagi banyak tugas?” tanyanya lalu duduk disebelahku.
Kuturunkan Koran yang kubaca, “Iya, Mas,” jawabku pendek, tak tega mengacuhkan orang yang paling baik sedunia.
“Bagaimana pelajaranmu?” tanyanya lagi.
Dalam hati aku bersungut, pasti Mbak Ida yang menceritakan betapa parahnya nilai-nilaiku.”Kalau Mas Edi punya waktu, ajarkan aku fisika ya, menyebalkan sekali bagian listrik dan magnet!”Aku bersungut.
Mas Edi tertawa “Rabu ini kau ujian fisika kan? Daripada melamun mending belajar sekarang, kan belum ada yang ngapel ?”tanyanya meledek.
“Aku ngerti, malam minggu seperti ini setiap orang pasti sudah punya acara,” aku balas meledeknya, kekesalanku berangsur sirna.
Kulihat Mas Edi menelepon seseorang, “Ayo, kuantar kau ke Aula Barat, Yunan ada disana sekarang.”
“Si Dhani sedang pulang ke Semarang, jadi kau tidak perlu kuatir mengganggu acara mereka. Lagipula diantara kami bertiga, Yunan yang paling handal untuk urusan mengajar,” lanjut Mas Edi melihat aku akan mmembantah.
Tadinya aku menolak diantar, apalagi jarak ke kampus tidak jauh dari tempat kosku. Tapi mbak Ida dan mas Edi beralasan sekalian keluar, jadilah aku diantar mereka sampai bertemu Yunan.
Yunan lalu memisahkan diri dari teman-temannya dan aku mengikutinya duduk di pojok sebelah kanan dari pintu masuk.
Dia mengambil buku yang kubawa dan membuka sekilas, “Masih marah?” tanyanya melihat aku belum juga membuka mulut. “Sorry, mungkin perkataanku waktu itu terlalu keras, aku tahu, yang kau butuhkan saat ini adalah waktu bukan nasehat. Tapi kau perlu ingat, kau sedang berpacu dengan waktu, kau tahu resiko kalau gagal lagi tahun ini. Orang tuamu pasti kecewa,” Yunan menatapku lurus.
“Kau benar, mungkin hari itu moodku memang sedang jelek, sudahlah anggap tidak terjadi apa-apa,” kataka lunak. Aku tahu Yunan bicara serius dan kekuatiranku akan di DO melebihi segalanya, rasanya tak sanggup membayangkan kekecewaan orang tuaku.
Sejak itu hubunganku dengan Yunan semakin akrab, bukan hal yang aneh kalau mereka bertiga menegur dengan cara meledekku kalau aku terlalu larut dalam kesedihan. Bahkan mereka ikut-ikutan menyeleksi dan mencari tahu siapa saja yang mencoba mendekatiku.
“Nada,” seseorang memanggil namaku.
Aku tergagap entah sudah berapa lama aku melamun dan sudah berapa kali namaku dipanggil. “Sorry Mas, aku masih ngantuk, jadi agak ngelantur” aku memberi alasan sekedarnya pada Mas Alta yang memanggilku.
“Kenalkan ini Yunan, Wireline Engineer yang kebetulan sedang sowan kesini,” ujar Mas Alta.
“Aku mengenalnya sudah lama, bahkan ketika dia masih suka menangis,” timpal Yunan.
“Itu dulu, sekarang sudah tidak lagi,” kataku malu mengingat betapa cengengnya aku dulu.
Yunan tertawa dan pamit pada Mas Alta, aku mengikuti langkahnya.
“Apa benar sekarang kau sudah lebih tegar?” Yunan memulai perbincangan tatkala kami melangkah keluar dari kantor drilling.
“Kau tidak percaya setiap orang bisa berobah dengan waktu?” sungutku.
”Apa khabarmu, yang kudengar kau jarang di Indonesia, apa khabar Mbak Dhani, sudah punya anak berapa?”tanyaku penuh rasa ingin tahu. Sudah hampir lima tahun sejak dia lulus kami tidak bertemu, khabar mengenai dia seolah tenggelam diantara lautan yang memisahkan kami.
“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Dhani sudah menikah dan punya anak, tapi bukan denganku dan hubungan kami tetap baik,” Yunan menatapku tersenyum.
“Mengenai status, sampai saat ini aku masih sendiri, apa kau senang mendengarnya?” senyum Yunan semakin melebar.
Kutinju lengannya ”Wanita idealmu seperti apa sih? Apa kurangnya Mbak Dhani hingga kalian tidak berjodoh.” Aku menekan nada suaraku sebiasa mungkin. Rasanya ada sebersit cahaya yang kembali mengisi relung hatiku.
“Dhani itu kelebihannya banyak, wanita ideal menurut banyak orang. Tapi aku tahu dia bukan jodohku.”
“Bagaimana kalian putus?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.
“Setelah lulus aku harus mengikuti training selama enam bulan di Australia, selanjutnya, aku menghabiskan banyak waktu di lapangan. Dhani tidak setuju dengan pilihan pekerjaanku, akhirnya dia memutuskan untuk berpisah.”
“Apa kau sedih setelah putus darinya?”
Yunan tertawa,”Kau sudah tahu jawabannya. Kau tahu siapa yang aku suka,” dia menatapku dalam. “Kau sendiri bagaimana, apa sudah mendapatkan pengganti Widad?”
Aku tercenung sesaat, tatapannya masih sama, tatapan yang dulu telah membuatku gelisah dan akhirnya memutuskan untuk menjaga jarak dengannya.
“Apa masih terus bersedih kalau mengingatnya?” Yunan melanjutkan pertanyaannya.
“Kau pernah mengatakan, aku butuh waktu. Aku pikir waktu tujuh tahun sudah lebih dari cukup untuk tidak bersedih ketika mendengar namanya.disebut,”jawabku lirih.
“Termasuk untuk mencari penggantinya?” Yunan kembali menatapku , aku takut sekali dia dapat merasakan gejolak hatiku.
“Jodoh itu seperti bayangan, aku diam, dia diam, kalau aku berlari dia ikut berlari, jadi aku harus bagaimana?” aku berusaha mengalihkan suasana yang mulai membuatku rikuh dan mengucapkannya seriang mungkin.
“Kalau begitu, kau harus merobah persepsimu tentang jodoh, bukan merupakan bayangan tapi sesuatu yang harus diperjuangkan entah pada saat yang tepat atau tidak.” timpal Yunan membuat beribu penyesalan dalam hatiku.
“Aku mau ke truk, logging sudah akan dimulai, mau melihat kedua trainer. Dan kau, apa tugasmu, dan apa yang akan kau lakukan sekarang?”Yunan menghentikan langkahnya.
“Tugasku malam ini, mengawasi velocity survey. Sekarang aku akan mengecek pit yang telah dibuat untuk memastikan lebar dan kedalamannya cukup baik ,” jawabku agak kecewa, tak rela mengakhiri percakapan kami.
Yunan menepuk lenganku, “Oke, kita sambung lagi pembicaraan ini, masih banyak hal yang ingin kudengar darimu ujarnya terus beranjak pergi.
Aku menghela nafas dalam-dalam, “Waktu, kenapa selalu tidak berpihak padaku?” keluhku.