…….
There’s an answer
If you reach into your soul
And the sorrow that you know
Will melt away
And then a hero comes along
With the strength to carry on
And you cast your fears aside
And you know you can survive
So when you feel like hope is gone
Look inside you and be strong
……
Lagu Hero yang dinyanyikan Mariah Carey melantun lembut. Rumus trigonometri yang sedang kubuat pada lembar excell terasa semakin sulit, pikiranku melayang….
“Lagu ini bagus sekali, cocok untukmu,” ujar Yunan seraya memberikan CD yang dipegangnya.
Aku menerima CD pemberiannya terharu, walaupun perkataan Yunan sering terasa menyebalkan, tapi aku tahu dia tulus, tidak ingin aku terjerat dengan huruf D dan O yang tengah menghadangku. Berbeda sekali dengan Mbak Ida dan Mas Edi yang tidak pernah terang-terangan menasehatiku.
“Kau lihat mereka,” Yunan menunjuk sekelompok mahasiswa-mahasiswi yang sedang bercengkrama dengan riang, “Apa kau akan terus mengenang masa lalu dan kemudian akan menyesali saat-saat sekarang yang terlewatkan begitu saja?”
Aku terdiam, perkataan Yunan seringkali menjadi shock terapy untukku.
“Ah…kasihan sekali para pengagummu, harus bersaing dengan orang yang tidak ada,” ujarnya dengan mimik yang lucu.
Aku tertawa melihatnya.
“Bagus, sekarang wajahmu sudah tidak muram. Aku pergi dulu, ada janji dengan Dhani. Kalau ada kesulitan dengan pelajaranmu, hubungi aku.” Yunan segera beranjak pergi.
Mataku mengikuti langkahnya melewati jalan yang katanya dulu lapangan sepak bola. Banyak orang yang lalu lalang disana, terlihat ceria, bersemangat menggapai citanya.
Kupandang langit yang berwarna biru cerah, ingin rasanya terbang menuju alam nun jauh disana, melihat Widad sedang melakukan apa.Air mataku menggenang, rasanya aku sudah lelah, lelah karena hatiku tidak juga rela, tidak pasrah menjalani apa yang sudah digariskan. Pengembaraanku terputus ketika tertabrak seseorang.”Maaf,” ujarku kaget. Setengah menegur dia menatapku. Aku terus melanjutkan langkah, belum terlambat tiba di tempat kuliah. Kutatap seluruh kelas, sebagian teman-teman masih bergerombol, asyik mendiskusikan sesuatu. Seperti biasa, aku akan menyendiri, duduk di pojok kiri depan dan membaca sesuatu, tidak peduli dengan kebisingan di sekitarku. Tiba-tiba perkataan Yunan terngiang ”kau akan menyesali saat-saat sekarang yang terlewatkan begitu saja.”
Kualihkan mata dari buku yang kubaca, kulihat salah satu teman melambaikan tangan, Ririn yang sedang makan, menawarkanku, Seto yang paling senang menggoda, duduk di sebelahku, Rio yang lewat menyapaku. Tuhan betapa tulusnya mereka yang seringkali aku abaikan walau hanya dalam pikiran. Terasa jiwaku seakan memberontak, ingin keluar dari keterkukungan pikiran yang aku ciptakan.
“Alangkah bodohnya membelengu diri dengan kenangan masa lalu dan melewatkan masa sekarang, masa indah menuju kedewasaanku!” semangat itu bergema dalam hatiku.
Hari demi hari hubunganku dengan Yunan terjalin semakin akrab. Aku tidak pernah merasa kami mempunyai perbedaan usia karena sikapnya yang tidak pernah mengguruiku. Sebab itu aku tidak pernah merasa perlu menambahkan embel-embel Mas, atau Kak, atau Bang, seperti yang biasa kuberikan untuk orang yang lebih tua dariku. Aku juga merasa nyaman dekat dengannya juga Mas Edi karena mereka sudah mempunyai pasangan.
Sampai suatu hari di satu malam Minggu yang merupakan titik awal dari ketidak nyamananku berdekatan dengannya.
Aku terkejut saat Yunan sudah menungguku diluar gedung Oktagon setelah aku menyelesaikan ujian Geologi Struktur yang wajib kuambil.
“Kau habis ujian juga?” tanyaku tanpa curiga.
Dia menggeleng,”Aku hanya kuatir, mahasiswa Geologi akan berebutan mengantar kau pulang’”ujarnya melucu.
“Aku benar-benar tersanjung kalau ada kejadian seperti itu,”sahutku.
Tawa kami berderai.
Perlahan kami menyusuri jalan, sayup-sayup terdengar musik gamelan Bali yang terbawa oleh angin yang bertiup semilir, dari kejauhan terlihat ada yang sedang berlatih menari.
“Kau tidak ke rumah Mbak Dhani?” tanyaku tak dapat menutupi rasa ingin tahuku.
“Sudah,” jawab Yunan.
“Bagaimana ujianmu?” tanyanya mengalikan pembicaraan.
“Lumayan,” jawabku. Aku tahu Yunan tak ingin diusik dengan pertanyaan mengenai Mbak Dhani dan aku cukup tahu diri karena ini urusan pribadi mereka.
“Apa Mbak Ida yang memberi tahu kalau aku ada ujian malam ini?” tanyaku penasaran.
“Apa kau keberatan kutemani pulang?” Yunan balik bertanya.
Saat itu aku ingin sekali melihat ekspresi wajah Yunan, sayangnya sinar bulan tertutup oleh lebatnya pepohonan yang berjajar di sepanjang jalan, sedang sinar lampu jalan hanya menerangi remang-remang.
“Tidak, aku senang kau temani…,” aku tak dapat meneruskan perkataanku, tidak menemukan kata yang tepat. Yang aku rasakan, ada seberkas cahaya yang menerangi hatiku, seperti cahaya kunang-kunang yang menerobos kegelapan malam.
”Nada, Widad itu seperti apa, kenapa kau begitu sulit melupakannya?”
Semula aku diam saja, mengira Yunan asal bertanya. Melihat dia menunggu jawaban, selanjutnya ceritaku mengalir.
”Widad itu pendiam, tidak terlalu suka keramaian. Dia tidak terlalu percaya diri, tapi sangat setia kawan, karena itu walaupun temannya tidak banyak tapi mereka bersahabat akrab. Hobbynya berada dekat dengan alam, hampir setiap akhir pekan dia mendaki gunung, panjat tebing atau menyusuri goa, beberapa bulan sebelum kepergiannya, dia sangat menyukai arung jeram.”
“Lalu, kapan dia punya waktu untukmu?” tukas Yunan seakan memojokkanku.
Aku terdiam cukup lama. Pertanyaannya sama seperti yang pernah kuajukan pada Widad sebulan sebelum dia pergi untuk selamanya. Pertanyaan yang menjadi penyesalanku sampai saat ini. Karena pertanyaan itu kami bertengkar, Widad menganggap aku sudah berobah, tidak lagi memahaminya. Sebaliknya aku mulai merasa lelah, merasa tidak pernah diperhatikan, selalu dikalahkan hobbynya.
”Maaf, lupakan kalau pertanyaanku membuatmu sedih.”Yunan buru-buru mengucapkannya.
”Tak apa,” sahutku menguatkan hati. “Widad pernah mengatakan, kualitas hubungan dua orang tidak ditentukan oleh seberapa sering mereka bersama, yang terpenting orang tsb ada dihati dan saling percaya,” ujarku dengan nada getir. Seandainya aku tetap mempercayainya, dia akan pergi dengan hati yang damai.
“Bagaimana kalian berkenalan?”Yunan kembali bertanya.
“Untuk mengisi liburan kenaikan kelas, atas desakan teman-teman aku ikut kegiatan Pencinta Alam mendaki gunung Gede. Saat turun, kakiku terkilir dan Widad yang menolongku.”
“Hm...cinta lokasi, rupanya.” Aku tak begitu memperhatikan nada suara Yunan, saat itu aku teringat ucapan Satya, salah satu sahabat karib Widad yang menceritakan betapa paniknya Widad saat mendengar aku terkilir. Dia berlari turun padahal dia ada di rombongan paling belakang, sedang aku berada di rombongan terdepan. Dari Satya pula aku banyak mengetahui isi hati Widad karena dia sulit mengungkapkan perasaan sukanya dengan kata-kata.
”Apa yang paling kau suka darinya?” Yunan bertanya lagi.
”Dia tidak pernah mengaturku, dia mengatakan ingin melihat aku sebagai diriku sendiri. Dialah yang mendorongku untuk kuliah disini karena ini cita-citaku sejak kecil.”
”Dan apa perbedaanku dengannya?” kali ini suara Yunan terdengar setengah bergurau.
”Dia bukan penebar pesona, dia tipe yang setia, dan selalu merasa tak nyaman berada di dekat orang-orang yang tidak terlalu dikenalnya.”
”Maksudmu aku....” Yunan tak meneruskan kalimatnya, tanpa terasa kami sudah sampai di tempat kostku, kulihat Ibu kost sedang duduk di teras depan, pasti sedang menungguku, kemudian beliau akan mengunci pintu pagar.
“Aku heran, di jaman merdeka masih berlaku jam malam,” seloroh Yunan membuatku tertawa.
“Tempat ini pilihan orang tuaku, susah payah mereka mencari tempat kost seperti ini.”
Yunan tersenyum mendengar alasanku, ia melihat arlojinya,”Kau masuklah, aku mau ke lab, mengerjakan tugas akhirku.”
“Pantas kau terlihat sibuk akhir-akhir ini, untung aku sudah lulus TPB, kalau tidak kau pasti tidak punya waktu mengajarku.”
“Justru aku harus menyibukkan diri, terasa ada yang hilang setelah kau lulus TPB. Sejak masuk jurusan, kau sudah tidak memerlukan aku lagi.”
Agak lama Yunan terdiam, kemudian dia memandangku.
“Merepotkan sekali harus selalu mencari alasan untuk menemuimu, merana sekali sudah tidak dibutuhkan lagi,” keluhnya.
Aku terdiam mendengar ucapannya, ada sesuatu yang menyelinap, rasa yang dulu pernah membuatku bahagia, yang tanpa kusadari terkikis perlahan, perasaanku terhadap Widad.
“Oke, selamat tidur. Semoga kau punya khayalan baru tentang orang yang kelak akan mendampingimu.” Yunan berpamitan.
“Sampai nanti,” aku bergegas ke pintu pagar, tak mau terperangkap dengan perasaanku.
Sebelum masuk ke kamar, aku mampir ke kamar Mbak Ida.
“Mbak, kau yang memberitahu Yunan kalau aku ada ujian malam ini?”
“Sejak dulu dia tahu jadwal kuliah dan ujianmu,” jawab Mbak Ida tak acuh.
“Dia menemanimu pulang? Apa yang kalian bicarakan?”lanjut Mbak Ida menggodaku.
”Dia banyak bertanya tentang Widad,” jawabku tak mempedulikan ledekannya.
“Kupikir Yunan punya perhatian khusus padamu. Aku senang kalau kau juga punya perasaan yang sama,” Mbak Ida kembali menggodaku.
”Sejak awal aku sudah menduga Yunan dan Dhani sebenarnya tidak cocok. Yunan bukan tipe laki-laki yang senang diatur, aku rasa dia akan menderita mempunyai isteri yang posessive seperti Dhani,” lanjut Mbak Ida serius.
”Saat seperti itu tidak akan ada, Mbak” ujarku pelan.
Mbak Ida memandangku, “Apa aku boleh bertanya tentang Widad lebih rinci?”
Aku mengangguk.
“Bagaimana dia meninggal?”
“Dia meninggal saat arung jeram di Aceh, setelah menolong seorang sahabat yang perahunya terbalik,”ujarku sedikit tersendat, mataku terasa basah.
“Jangan teruskan kalau kau merasa belum sanggup,” Mbak Ida merangkulku.
Aku menggeleng, meneruskan ceritaku “Malam sebelum mereka memulai ekspedisi, Widad bercerita kepada Satya kalau ini merupakan ekspedisi terakhirnya. Selanjutnya dia akan konsentrasi pada kuliahnya dan akan lebih sering mengunjungiku.Dia mengatakan mulai kuatir dengan hubungan kami dan merasa menyesal membiarkan aku kuliah disini.”
Mbak Ida menghela nafas. “Seandainya ada orang seperti Widad, dan menyukaiku, Edi akan kutinggalkan.”
Aku tersenyum mendengar ucapannya, aku tahu Mbak Ida berusaha menghiburku.
“Awas, akan kulaporkan pada Mas Edi,” ancamku, kesedihanku mencair.
“Nada, sebelum ijab kabul diucapkan, kita tidak pernah tahu siapa jodoh kita. Jadi jangan cepat menutup diri hanya untuk satu orang,” ujar Mbak Ida kalem, membuatku terperangah.
Kulihat Mbak Ida mengeliatkan badan, bersiap untuk tidur. Aku segera keluar dari kamarnya.
Baru kusadar, sejak tadi ada yang berdiri di belakangku, memperhatikan rumus yang sedang kubuat. Segera aku menoleh, mukaku terasa memanas setelah tahu siapa yang ada di belakangku.
Yunan yang berdiri, memeriksa dengan seksama.
“Hasan yang akan mengajar mereka,” Yunan menjawab tanya yang belum sempat kuucapkan.
“Kau membuat program apa?” tanyanya tetap memandang ke rumus yang sedang kubuat.
“Untuk mengkoreksi penjalaran gelombang ke posisi vertikal,” ujarku.
”Alat logging nyangkut, velocity survey paling cepat setelah lewat tengah malam.”
“Sekarang ikut aku, kau masih punya banyak waktu,” ia meneruskan.
“Kemana?” tanyaku melihat dia sudah beranjak.
“Jambi,” sahutnya singkat.
Aku mengikuti langkahnya, memang membosankan kalau sedang ada masalah dan tidak banyak yang harus dikerjakan. Hiburan satu-satunya adalah pergi ke kota terdekat.
“Mas, kami mau ke Jambi, bosan disini menunggu giliranku bertugas,” kataku pada Mas Alta yang kebetulan lewat.
“Jangan kuatir, sebelum matahari terbenam kami sudah kembali.” Yunan melambaikan tangan ke arah Mas Alta.
“Hati-hati, jalanan licin,” nasehat Mas Alta.
“Kau yakin mau nyetir sendiri?” tanyaku agak ragu.
“Jangan kuatir, aku tak kalah dengan Kamal,” jawab Yunan mantap.
“Sepertinya kau sudah mengenal baik mas Alta,” kataku sambil memasang sabuk pengaman.
“Dia tiga angkatan diatasku, pernah sama-sama aktif di Himpunan.” jawab Yunan sambil menginjak gas, mobil kami mulai keluar dari lokasi.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
2 comments:
wah ga sabar nunggu next chapter :)
whuaaaa kayak nungguin cerberny femina..... ;)
Post a Comment