Thursday, August 14, 2008

Kesempatan Kedua (3)

Yunan mengendarai mobil pelan, menghindari tanah liat yang gembur agar tidak terperosok. Tak banyak yang kami perbincangkan karena Yunan harus ekstra hati-hati agar tidak slip. Setelah berjalan offroad kira-kira satu jam, kami tiba di jalan aspal, jalan provinsi yang menghubungkan Palembang dan Jambi.
“Ada yang menarik di Jambi?”
“Mungkin ada,” jawab Yunan singkat. “Bagaimana kariermu?” Sekilas ia memandangku.
“Biasa-biasa saja. Kau sendiri?”
“Aku baru saja memutuskan, akan menerima tawaran untuk kembali ke Jakarta.”
“Promosi rupanya.”
Yunan tertawa.”Menurutmu ini berita bagus?” dia mengurangi laju mobil.
“Tentu saja, aku senang bertemu denganmu lagi.”
“Janji tidak akan menghindariku?”
Mukaku mendadak terasa panas, aku jadi salah tingkah mendengar pertanyaannya.
Kejadian beberapa tahun lalu menari di depan mata.
Aku ingat betapa rumitnya suasana ketika mbak Dhani mulai menyadari ada yang berobah pada Yunan. Aku meyakinkannya dan meyakinkan diriku sendiri bahwa antara aku dan Yunan tidak ada hubungan apa-apa dan sejak itu aku selalu menghindari Yunan, menutup pintu hatiku rapat-rapat.
Terakhir kali bertemu dengan Yunan adalah pada saat ia lulus, Mbak Ida memaksaku untuk ikut merayakan perpisahan mereka bertiga karena besoknya Yunan harus ke Jakarta untuk selanjutnya training ke Australia.
Saat aku ditinggalkan berdua, aku sadar ini sudah ada dalam skenario mereka bertiga.
Aku membulatkan tekad, ini pertemuan terakhir, tidak akan ada lagi peristiwa seperti ini.
Lama kami terdiam, sekilas kulihat Yunan hanya memutar-mutar gelas minumannya, tapi matanya terus menatapku.
“Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan, aku mau pulang,” ujarku mulai salah tingkah.
Dia tersenyum tipis. “Kau harus menjawab pertanyaanku dengan jujur, kenapa kau menghindariku?”
“Aku merasa akhir-akhir ini ada sesuatu yang tidak beres diantara kita.”
“Maksudmu karena aku menyukaimu atau karena kau juga punya perasaan yang sama?”Yunan menatapku lurus, mencari jawaban di mataku.
Aku tak langsung menjawab, menimbang apa yang harus kukatakan. Aku tahu sifatnya yang tidak gampang menyerah dalam segala hal.
“Banyak hal dari dirimu yang aku kagumi tapi waktu tidak mengizinkan rasa itu bersemi.”
“Aku akan menunggu sampai rasa itu ada” tukas Yunan cepat.
“Yu, kalau kau lepaskan Mbak Dhani karena aku, maka kau akan terpatri sebagai sosok yang tidak setia, dan suatu saat kau akan meninggalkan aku karena orang lain. Aku tak mau pikiran itu membayangiku.”
Yunan menghela nafas, aku dapat melihat ada kegalauan di matanya. Kepercayaan dirinya yang tinggi yang selalu membuatku kagum seolah lenyap. Aku bangkit dari dudukku, tak ingin rasa iba mendobrak dinding pertahananku.
“Selamat jalan, semoga sukses,” aku mengulurkan tangan sebagai tanda perpisahan.
Dia menjabat erat tanganku, “Keputusan ini, apa karena kau masih tidak dapat melupakannya?”
Aku mengangguk, ingin lekas menjauh darinya, air mata sudah mulai menggenang di kelopak mataku.
“Nada, dalam setiap persaingan aku selalu yakin akan jadi pemenang. Tapi bersaing dengan orang yang sudah tidak ada, aku benar-benar tak berdaya,” ujarnya pelan dan melepaskan jabatan tangannya.
Aku bergegas keluar, tak kuhiraukan panggilan Mbak Ida yang menungguku diluar. Air mataku mengalir deras. Alunan suara Roxette yang melengking sendu mengiringi kepergianku.

It must have been love
But it’s over now
It was something I wanted
Now I’m living without

Ingin rasanya kembali, mengggapai kebahagiaan yang menanti di depan mata, tapi terbayang wajah Mbak Dhani. Aku tahu apa artinya kehilangan dan aku tak ingin dibayangi perasaan bersalah, merenggut kebahagiaan orang dengan cara yang tak pantas.



“Nada, kau belum menjawab pertanyaanku,” suara Yunan mengagetkanku.
Dia mengurangi laju mobil dan berhenti mengikuti antrian mobil di depan kami. Sebagian jalan sedang dalam perbaikan, jadi kendaraan harus bergantian jalan di satu jalur. Dia mengarahkan badan menatapku.
Aku gelagapan, memikirkan apa pertanyaan yang dia ajukan. “Tidak ada alasan untuk menghindarimu,” jawabku setelah ingat apa yang dia tanyakan.
Yunan tertawa melihat reaksiku, “Kebiasaanmu melamun tidak pernah hilang. Sesungguhnya apa yang ada di pikiranmu, aku sungguh penasaran.”
“Aku tidak habis pikir, kita bisa bertemu disini,” aku sedikit lega melihat mobil kami sudah mulai jalan, Yunan kembali mengarahkan perhatiannya ke depan.
“Mungkin ini takdir,” ujarnya tak acuh. Aku menoleh ke arahnya, kulihat senyum tertahan di wajahnya, aku merasa ada yang ia sembunyikan.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam, kami memasuki kota Jambi. Yunan membelokkan mobil ke rumah makan Padang yang pertama kami jumpai.
“Aku tak tahu dimana tempat makan enak disini, yang jelas aku sudah lapar. Tak keberatan kita makan disini?”
”Makanan disini enak, aku jamin kau akan ketagihan,” aku meyakinkannya, sudah tiga kali aku makan di tempat ini.
”Sepertinya sekarang musim durian,” Yunan membuka pembicaraan. ”Banyak sekali yang berjualan di pinggir jalan.”
Aku membenarkan ucapannya. ”Kalau musim durian, ada pedagang yang menjualnya ke rig. Duriannya lezat, matang di pohon.”
”Sayang sekali aku tidak sempat mencicipinya.”
Aku memandangnya, menunggu kalimat selanjutnya.
”Besok pagi aku harus terbang ke Jakarta,” ujarnya.
Ada yang terasa kosong di hatiku mendengar perkataannya, salahku terlalu banyak berharap dari pertemuan yang kebetulan ini.
Tak lama makanan kami di sajikan, Yunan menyantap menu yang tersedia dengan lahap.
”Bagaimana kalau kita makan durian disini?”
Aku memandangnya tak percaya, ”Masih sanggup?”
Yunan tertawa. “Aku kangen sekali makanan Indonesia. Aku juga rindu masakan kantin Salman. Kalau nanti aku kembali kesini, hal pertama yang ingin kulakukan adalah makan disana.” lanjutnya bersemangat.
“Aku ingin makan bersamamu. Itu salah satu keinginanku yang belum terpenuhi, sebab itu aku ingin mewujudkannya,” dia berkata serius.
Aku merasakan dadaku bergemuruh, dan aku sangat takut waktu kembali tidak berpihak kepadaku.
“Masih berhubungan dengan Ida?” tanyanya.
“Ya, walaupun tidak terlalu sering. Email terakhir Mas Edi mengatakan kalau mbak Ida melahirkan seorang putra dan mereka berharap aku main kesana sebelum mereka kembali kesini.”
“Aku mampir ke rumah mereka tahun lalu. Mereka tinggal di sebuah kota kecil bernama Winsum. Di belakang rumah mereka ada sungai, menyenangkan sekali main kano disana.”
“Sepertinya menarik sekali. Kenapa mereka tidak pernah cerita kalau kau pernah kesana?” tanyaku terlepas begitu saja.
“Apa itu penting bagimu?”
Aku tersipu. Aku tahu ada sesuatu yang dicari dari pertanyaannya.
“Pada saat aku disana, aku bertanya kepada Ida, apakah kau pernah bertanya tentang aku. Tapi dia tak menjawab, hanya menyuruhku segera kembali ke Indonesia.”
“Apa itu alasan kenapa kau ada disini?”
Yunan menggeleng. “Aku ke Jakarta untuk menghadiri rapat. Aku ada disini karena aku tidak ingin melepaskan kesempatan yang aku yakini memang sudah menjadi rencanaNya.”
“Maksudmu?”
“Jum’at siang aku menelepon Mas Alta, menanyakan apa keberatan kalau kami menempatkan kedua trainer wanita disini. Ia menjelaskan tidak masalah karena dia telah menyiapkan sebuah cabin untukmu yang bisa dihuni oleh empat orang. Selanjutnya aku membatalkan penerbangan hari Sabtu menjadi hari Senin”
“Pantas kau terburu-buru pergi.”
“Besok aku pergi dengan penerbangan pertama. Apa mungkin kau kembali ke Jakarta bersamaku?”
“Sepertinya tidak mungkin. Aku harus menunggu sampai datanya siap dibawa ke Jakarta, untuk selanjutnya di proses disana.”
Yunan tertawa pelan. “Entah mengapa, aku merasa kau masih berusaha menghindariku.”
“Kalau aku menhindarimu, aku tak akan ada disini,” entah dapat keberanian darimana aku mengucapkan kalimat tsb.
Dia memandangku, ada sesuatu yang selalu ia cari di mataku. Suatu pengakuan yang aku masih ragu untuk mengucapkannya.
”Ayo kita kembali ke lokasi, agar tidak kemalaman di jalan,” ujarnya memecah keheningan.
Perjalanan pulang terasa sangat singkat, banyak sekali cerita yang dulu tidak sempat diucapkan akhirnya tersampaikan. Aku merasa nyaman berbicara dengan Yunan tanpa merasa ada batasan. Rasa bahagia yang mendera, kini tidak membuatku merasa bersalah.
Ketika sampai di camp, Yunan menahanku saat akan keluar dari mobil. “Nada, maukah kita memulai segalanya dari permulaan? Aku tanpa satupun ikatan dan kau tanpa kenangan masa lalumu?”
Aku mengangguk.
“Sampai ketemu lagi.” Yunan mengulurkan tangan. “Malam ini kau tidak akan tidur jadi aku yakin kau pasti sedang tidur lelap ketika aku pergi besok pagi.”
Aku menyambut uluran tangannya. “Dulu aku pernah menyesali nasib, merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung setelah kepergian Widad dan kemudian berpisah denganmu. Ternyata dibalik itu semua ada karunia begitu besar yang akan diberikanNya padaku. Kebahagiaan yang membuatku tidak merasa bersalah karena aku tidak merenggut dari siapapun. Kebahagian yang kini aku yakin memang menjadi milikku.”
Kami bertatapan, aku merasa Yunan sudah mendapatkan apa yang selalu dicarinya.
“Aku senang mendengarnya, tak sia-sia aku menghabiskan akhir pekan disini,” dia tersenyum bahagia.
”Jangan lupa mengaktifkan HP segera setelah pesawatmu landing. Aku tak mau kehilangan kontak denganmu terlalu lama.”
Aku mengangguk. Dengan berat hati aku meninggalkannya, tapi langkahku terasa ringan, terasa ada semangat menggelora untuk menyongsong hari esok.

#######################

Aku menerima email klip dari Yunan yang berdurasi tak lebih dari setengah menit. Di akhir pembicaraan dia menyatakan akan ke Amsterdam minggu depan dan mengunjungi Mbak Ida. Masih terngiang di telingaku ucapannya “ Kalau kau bisa mengunjungi Ida, aku akan menghabiskan akhir pekan disana dan mengambil cuti beberapa hari. Aku akan menjemputmu di Schipol.”
Aku masih bimbang memutuskan pergi atau tidak ketika supervisorku berkomentar, “Will you marry him?” entah sudah berapa lama Beliau berdiri di ambang cubicle ku.
Aku sedang menimbang akan mengambil cuti atau tidak karena minggu depan akan ada pertemuan dengan partner.
“Yes, I will marry him. I’m gonna take vacation next week ,” akhirnya aku memutuskan dengan mantap.
“We have a meeting next week,” dia mengingatkanku.
“Pak, it’s about my future. There will be next meeting but there won’t be third chance. Sorry for this short notice.”
Supervisorku tersenyum “have a good time,” ujarnya.
Aku meninggalkannya menuju travel biro yang ada di kantorku untuk mengurus keberangkatanku. Aku teringat ucapan Yunan “Jodoh itu sesuatu yang harus diperjuangkan entah pada saat yang tepat atau tidak.”
Keputusanku semakin mantap, aku telah diberikan kesempatan kedua dan aku tak akan melepaskannya.


TAMAT

6 comments:

Anonymous said...

haiiiaaaaaaa
menjuraa gua mbaak :D

Anonymous said...

tes

Anonymous said...

Mbak Nit, salam buat Roxette ya, kalau keponakan gue baca nih cerpennya " kesempatan kedua" pasti nanya siapa tuh Roxette (hi-hi-hi)

Anonymous said...

wallah.... kirain lagi sibuk nyiapin thesis... ternyata lagi bikin cerita bersambung toch.... ;p
lanjut mbak..... :D

Anonymous said...

Welcome back kak! it's been ages since anita mag! :))

yoese mariam said...

whuaaaaaaaaaa......*wink wink wink*
wedding di Amsterdam....mauuuuuuuuuuu